Thursday, June 30, 2005

BAGAIMANA MENGUTIP SUMBER DARI INTERNET DI DAFTAR PUSTAKA

Untuk mengutip sumber di internet
1. Jika kurang dari 5 baris yang dikutip menjadi satu bagaian
2. Kalau 5 baris atau lebih harus 1 spasi, masuk 1 tab
3. Tulis nama penulis dan tahun akses. Misal .........(Junaedi, 2005)
4. Di daftar pustaka ditulis :

Junaedi, Fajar (2005). Judul. Alamat internet, tanggal akses

5. Jika tidak seperti ini dianggap plagiatisme !!

Wednesday, May 18, 2005

IKLAN DENGAN SOSOK LELAKI DAN PEREMPUAN IDEAL

Oeh : Ries Prawisudha (mahasiswa ilmu komunikasi UMY)


Banyak pemerhati masalah tubuh ini sepakat bahwa citra ideal perempuan bertubuh seksi dan enak dipandang mata dengan munculnya industri media dan periklanan. Media massa, banyak memunculkan figur-figur langsing dan seksi macam Nadia Hutagalung di Indonesia, mungkin diluar negeri Demi Moore. Bagi kaum hawapun tubuh tinggi dan berotot merupakan sosok lelaki ideal.Entah proses apa yang mengawali terpilihnya figur-figur langsing dan seksi juga macho untuk laki-laki ini untuk tampil ke muka. Seorang artis bernama Twiggy tahun 60an yang bertolak belakang dengan citra perempuan yang subur. Ia tidak punya buah dada, ceking, dan memotong pendek rambutnya seperti laki-laki . Ia terlalu kurus untuk ukuran perempuan normal dengan berat hanya 41 kg, seukuran dengan gadis usia belasan tahun. Twiggy mampu mengubah citra bentuk tubuh perempuan. Dan perempuan di berbagai belahan dunia yang terhubung dengan industri media telah menjadikannya idealisasi akan suatu bentuk tubuh perempuan dan lelaki yang tinggi dan berotot merupakan sosok paling ideal, untuk mengharapkan tubuh seperti ini haruslah dengan fitness dan memakan makanan yang mengandung protein tinggi setiap hari (sumber: Jurnal perempuan, www. About-face.org.com)
Pencitraan ini bukannya tanpa akibat. Justru akibat yang ditimbulkannya menyelinap dashyat ke benak banyak perempuan dan lelaki. Diet kini telah menjadi agama baru bagi perempuan yang ingin tampil "ideal", dan seksi, fitness juga menjadi budaya lelaki yang bertubuh ideal dan berotot, sejak itu pula industri produk diet berlomba-lomba menawarkan produknya dengan target pasar yang cukup besar: perempuan gemuk. Industri produk diet berkembang pesat dan nyaris tidak menghasilkan tubuh-tubuh yang lebih langsing. Industri ini lebih berhasil untuk mempergemuk dompet para pemegang sahamnya dibanding keberhasilannya membuat tubuh perempuan menjadi langsing.
Kenyataan ini membuat banyak aktivis perempuan bertanya- tanya, siapakah yang membentuk citra bentuk ideal tubuh perempuan, perempuan sendirikah atau industri kapitalis yang menghasilkan produk diet dan produk lainnya sehingga di bawah sadar perempuan mewajibkan dirinya untuk bertubuh langsing seperti yang muncul di media tersebut?
Bagian tubuh perempuan yang menjadi sasaran industri berikutnya adalah kulit dan rambut. Jika kita melihat dan mengamati iklan-iklan yang muncul menyelingi sinetron-sinetron di televisi, sebagian besar diantaranya berupa iklan produk perawatan rambut dan kulit. Berbagai macam shampoo ditawarkan, dari yang mampu menghitamkan rambut sampai yang mampu mengusir ketombe asalkan dipakai setiap hari. Citra-citra yang dimunculkan adalah berbagai perempuan dengan model rambut lurus dan hitam pekat, yang kalau perlu tingkat kehitamannya dibantu dengan sentuhan efek visual.
Seakan-akan bentuk rambut yang ideal bagi perempuan hanyalah yang hitam dan lurus panjang. Padahal dalam kenyataannya rambut wanita beraneka ragam, mulai dari yang tebal, tipis, ikal, lurus, keriting sampai yang berwarna agak kemerah-merahan.
Begitu pula dengan citra kulit perempuan yang dibentuk oleh industri, pada pertengahan tahun 80-an sampai awal 90-an, kulit yang kuning langsat masih menjadi daya jual produk-produk kecantikan di Indonesia. Namun kini, seiring dengan munculnya banyak produk pemutih, citra yang mulai dikedepankan adalah perempuan yang berkulit putih bersih.

Perempuan Korban "Citranya"
Karena berbagai pencitraan di media massa mengenai bentuk tubuh ideal seorang perempuan, banyak perempuan yang menjadi korban tanpa disadari. Pencitraan ukuran tubuh yang langsing cenderung ceking telah melipat gandakan kasus-kasus Anorexia dan Bulimia. Anorexia berarti kehilangan nafsu makan atau suatu sindrom yang membuat penderita menghindari keinginan untuk makan yang kemudian membuat dirinya berhasil menguasai dan mengatasi rasa lapar dan nafsu makannya sendiri. Penderita biasanya benar-benar ingin kurus sampai-sampai penderita merasa kedinginan, sulit tidur dan beberapa gangguan emosional lainnya. Sedangkan penderita Bulimia tetap makan dengan porsi yang wajar di depan publik, namun kemudian ia memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakannya. Jika tidak, ia akan merasa tidak nyaman secara psikologis. Almarhum Putri Diana adalah salah satu contoh penderita penyakit ini
Keinginan perempuan untuk memiliki kulit yang putihpun tidak luput dari bahaya. Di Indonesia, beberapa kosmetik pemutih kulit sampai harus dilarang oleh Departemen Kesehatan karena mengandung merkuri. Merkuri memang bisa membuat kulit menjadi lebih putih namun membawa efek samping yang berbahaya, bahkan dapat mengakibatkan kanker.
Tetapi mungkin dampak dari iklan itu sendiri yang mendorong si bintang iklan agar memakai produk itu tidak hanya wanitapun lelakpun dapat terbujuk oleh yang namanya iklan. Dalam kontek budaya massa yang semakin menglobal ini, negara-negara ketiga ini adalah sasaran empuk dari negara maju, yaitu khususnya Amerika iklan di Indonesia sendiri tidak lepas dari pengaruh budaya barat tapi ada pula yang masih memakai budaya sendiri dan ide kreatifnya sendiri dan khusus untuk perempuan yang menjadi korban dari kekejaman kapitalis lewat iklan dan yang menjadi model iklan baik lelaki maupun perempuan tentunya harus menyadarinya karena kapitalisme sangatlah menguntungkan bagi yang kuat dan sangat merugikan bagi yang lemah.




DOMINASI LAKI-LAKI MELALUI WACANA
Oleh Haryatmoko
“Aku mengidamkan agar kaum perempuan belajar menilai apa pun dengan cara pandang mereka sendiri dan bukan melalui mata laki-laki”. Annie Leclerc.
Pernyataan Annie Leclerc[1] ini merupakan ungkapan kerinduan akan kreativitas yang kini terbelenggu dan sekaligus ungkapan kepedihan perempuan sebagai akibat dari ketidakadilan gender. Betapa tidak menyakitkan, dalam upaya menggambarkan kebahagiaan dirinya, perempuan harus menoleh kepada laki-laki untuk bisa menemukan kata yang tepat dan disetujui. Hampir semua iklan produk kecantikan, pakaian, perlengkapan perempuan, selalu diukur keberhasilannya dari kemampuan pemakainya memikat lelaki. Untuk menyebut bagian-bagian dari tubuhnya, bahkan yang paling intim, perempuan memakai kata-kata yang dipilih oleh laki-laki. Penguasaan atas wacana menjadikan dominasi laki-laki seakan-akan sebagai sesuatu yang alamiah dan bisa diterima. Bahkan situasi paling menyiksa dan tak bisa ditolerir pun bisa nampak wajar. Seorang perempuan rela menanggung malu tidak mau mengungkapkan nama kekasih yang menghamilinya, supaya nama baik dan karier lelaki itu tidak ternodai. Lalu dia disebut perempuan yang tegar dan mandiri. Pengorbanannya menjadi sebuah nilai.
Kekerasan Simbolik
Dalam dominasi laki-laki ini, yang sebetulnya terjadi ialah kekerasan. Oleh Pierre Bourdieu kekerasan itu disebut kekerasan simbolik atau kekerasan yang tak kasat mata[2]. Kekerasan semacam ini oleh korbannya (kaum perempuan) bahkan tidak dilihat atau tidak dirasakan sebagai kekerasan, tetapi sebagai sesuatu yang alamiah dan wajar. Bahwa perempuan tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak dan rumah tangga diterima sebagai sesuatu yang sudah semestinya; representasi Tuhan mengacu pada jenis kelamin laki-laki tidak perlu dipertanyakan lagi; dalam Kitab Kejadian dikisahkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki harus diterima karena Wahyu, dan sebagainya. Konsepsi anthropologis, sosiologis, dan teologis tentang hubungan laki-laki dan perampuan yang tidak menguntungkan perempuan itu tentu saja mempunyai implikasi yang dalam, yaitu kekerasan, maka perlu dibongkar.
Di balik konsepsi tersebut, telah terjadi suatu proses yang bertanggungjawab atas perubahan dari sejarah menjadi seakan-akan sesuatu yang alamiah, dari suatu budaya menjadi seakan-akan sesuatu yang sudah semestinya. Yang alamiah, yang sudah semestinya itu menjadi mitos yang didukung oleh wacana yang dikuasai oleh laki-laki. Mitos itu diterima dan didukung oleh struktur sosio-budaya dan pengorganisasian masyarakat. Pembagian kerja dalam bentuk tugas rumah tangga bagi perempuan dan aktivitas publik untuk laki-laki adalah sebagian dari fakta sejarah, berarti bisa dirubah, bukan suatu tatanan alamiah. Profesi tertentu, pemuka agama misalnya, hanya didominasi oleh laki-laki karena dikondisikan oleh konteks budaya tertentu dan bukan sudah semestinya demikian. Maka membongkar ketidakadilan gender berarti menghadapi kenyataan yang sering ditafsirkan sebagai pemberontakan terhadap tatanan yang ada.
Ciri-ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan bahkan dirumuskan secara positif dalam organisasi masyarakat. Bentuk tubuh laki-laki lah yang menentukan aturan main dalam kebanyakan cabang olahraga; siklus hidup laki-laki menentukan dalam mendefinisikan syarat-syarat keberhasilan profesional; kemampuan mewujudkan keberadaannya mendefinisikan apa yang disebut seni; kehadirannya menentukan utuh- tidaknya keberadaan suatu keluarga; agresivitas dan dominasinya mendefinisikan apa yang disebut sejarah. Memang, semua ciri ini tidak tertutup bagi perempuan, artinya perempuan juga bisa melakukan dan mencapai keberhasilan yang sama, tetapi tujuan-tujuannya, dalam kenyataan, didasarkan pada kepentingan dan nilai-nilai lelaki. Justru ketidakadilannya terletak pada kesan seakan-akan memberi kesempatan yang sama kepada perempuan. Padahal, perempuan berada dalam posisi yang tidak diuntungkan bukan karena bos pilih kasih sehingga memihak pada laki-laki, tetapi karena seluruh masyarakat secara sistematis lebih memberi keuntungan kepada laki-laki dengan definisinya tentang moral, kerja, karier, kepantasan, jasa, dsb[3]. Inilah salah satu bentuk dominasi melalui wacana oleh laki-laki.
Dominasi melalui wacana menentukan dalam mendefinisikan pengorganisasian masyarakat dan pembagian kerja. Sering kita mendengar seorang isteri mengatakan bahwa suaminya setuju bahwa dia meneruskan kariernya. Seakan-akan bagi perempuan, menekuni profesinya itu menjadi mungkin karena belas kasih sang suami. Mengapa justru tidak mengandaikan yang sebaliknya bahwa melalui profesinya itu perempuan mencapai pemenuhan diri. Lelaki itu bisa menjadi suaminya karena menerimanya seperti apa adanya. Dari pembalikkan wacana seperti itu menjadi jelas bahwa perjuangan untuk kesetaraan perempuan tidak bisa berhenti pada pemenuhan hak-hak perempuan, perlakuan yang adil, tetapi harus sampai pada pembongkaran sistem penindasan itu sendiri yaitu dominasi wacana oleh laki-laki, yang disebut kekerasan simbolis.
Pada dasarnya kekerasan simbolis seperti itu terjadi dalam komunikasi dan pengetahuan. Lebih tepat dikatakan kekerasan berlangsung karena ketidaktahuan dan pengakuan dari yang ditindas. Jadi sebetulnya logika dominasi ini bisa berjalan karena prinsip simbolis yang diketahui dan diterima baik oleh yang menguasai maupun yang dikuasai. Prinsip simbolis itu berupa bahasa, gaya hidup, cara berpikir, cara bertindak, dan kepemilikan yang khas pada kelompok tertentu atas dasar ciri ketubuhan.
Wacana laki-laki mendikte cara berpikir, cara bertindak bahkan bahasa perempuan. Suatu ketidakpuasan atau protes harus dijelaskan dengan argumen yang melandaskan pada logika yang dibangun oleh laki-laki. Sebuah tangisan tidak cukup bisa melukisan kepedihan yang dalam; kekeluan lidah karena penderitaan tidak sanggup menggerakan suatu empati; dingin tidak mau melayani suaminya tidak mampu membuat lelaki merasa bersalah. Laki-laki menuntut suatu alasan dan penjelasan. Dengan cara itu lah sebetulnya laki-laki selalu menemukan kata untuk membenarkan diri. Dengan debat dan adu argumen, itulah cara laki-laki memenangkan nilai-nilainya. Maka benar saran Annie Leclerc ketika mengatakan:“Jangan berperang melawan laki-laki. Itu justru cara dia untuk memenangkan nilainya. Menyangkal untuk menegaskan diri. Membunuh untuk hidup. Cukup kita kurangi isi nilai-nilainya dengan menertawakannya”[4]. Nasehat ini mau mencegah perempuan agar tidak terjebak ke dalam perangkap wacana laki-laki yang punya pretensi netral. Padahal wacana tidak bebas nilai, selalu membawa kepentingan.
Sumber Ketidakadilan: Institusi Sosial yang Didefinisikan Laki-Laki
Ketika perempuan masuk dalam dinamika wacana laki-laki, dia tunduk dalam kategori-kategori yang telah ditetapkannya. Bila perempuan menerapkan skema pemikiran yang merupakan hasil dominasi, dia sudah kalah sebelum bertanding melawan laki-laki. Ketika pemikiran dan persepsi perempuan terstruktur sesuai dengan struktur hubungan dominasi, upaya untuk mengetahui berarti sama saja dengan sebuah pengakuan dan ketertundukan, karena perempuan harus menggunakan kosa kata dan kategori yang dibangun oleh laki-laki. Kesetaraan gender yang diartikan sebagai tuntutan akan pemenuhan hak-hak yang sama justru akan menjebak perempuan dalam logika wacana lelaki. Terjebak karena perbendaharaan kata dan kategori yang dipakai merupakan bagian dari dunia laki-laki. Hak bukan merupakan anugerah, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan. Perjuangan mengandaikan agresivitas, suatu bentuk superioritas fisik. Asumsi ini justru memberikan pembenaran kepada laki-laki mengapa mereka menentukan hukum dan memberlakukannya. Analisa ini sejalan dengan jawaban Annie Leclerc: “Dengan mengasumsikan bahwa superioritas nyata laki-laki cukup untuk memberikan pembenaran atas segala tindakannya. […] Dengan menerima bahwa superioritas fisik laki-laki bermutasi melalui penahapan alami menjadi kekuasaan penindasan terhadap yang lain…”[5]. Selain itu, rasionalitas hak juga memihak pada cara berpikir laki-laki.
Hak adalah sisi lain dari kewajiban, maka pemenuhan hak menuntut syarat-syarat. Syarat-syarat ini ditentukan oleh standar laki-laki. Kesadaran akan hak-hak yang setara dengan laki-laki bisa menjebak perempuan pada pengakuan atas standar yang ditentukan oleh laki-laki. Maka ungkapan-ungkapan seperti siapakah yang harus maju berperang kalau negara ini diserang?; siapa bertanggungjawab bila keluarga tidak bisa memenuhi kebutuhannya?; siapakah yang wajib melakukan ronda malam? Ungkapan-ungkapan tersebut mau memberi legitimasi atas privilese yang diterima laki-laki. Jadi kalau perempuan menginginkannya, ia lebih dulu harus memenuhi syarat-syarat seperti yang dilakukan laki-laki. Syarat-syarat itu sebetulnya dibuat sesuai dengan fisiologi dan kepentingan laki-laki, kemudian dilembagakan dalam institusi-institusi sosial melalui pendasaran ideologis dan simbolis yang wajar sehingga diterima oleh masyarakat.
Kalau perempuan menuntut kesetaraan gender, mereka harus mulai dengan membangun wacana baru yang mampu membongkar institusi-institusi sosial yang dibangun oleh lelaki. Pembongkaran itu perlu karena ketika mendefinisikan peran-peran dalam institusi-institusi sosial itu kriteria yang dipakai disesuaikan dengan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan laki-laki. Meskipun dikatakan bahwa suatu profesi atau institusi sosial netral dari perspektif gender, tetapi dalam kenyataan lelaki mempunyai kesempatan lebih daripada perempuan. Institusi militer terbuka bagi perempuan, tetapi pengambil keputusan utama adalah lelaki. Suatu universitas akan berpikir dua kali sebelum menyekolahkan seorang dosen perempuan yang masih lajang, karena jangan-jangan setelah disekolahkan dan kemudian menikah, dia akan mengikuti suaminya yang tinggal di kota lain. Hampir dalam semua agama, peran utama ada di tangan laki-laki apapun landasan teologisnya. Meskipun perspektif teologis memberi peran khas dan terhormat kepada perempuan, yang jelas bukan peran pengambil keputusan. Institusi sosial, institusi agama, profesi, mempunyai sejarah. Sejarah disusun menurut kepentingan yang kuat.
Bila sejak awal institusi-institusi sosial dan profesi didefinisikan atas dasar kepentingan dan nilai-nilai laki-laki maka dalam perkembangannya yang terjadi lebih suatu proses diskualifikasi perempuan. Situasi biologis, psikologis, kompetensi, dari perempuan dianggap tidak kondusif atau tidak sesuai dengan tuntutan dan kualifikasi yang disyaratkan. Kalau seandainya sejak awal perempuan ikut menentukan dan mendefinisikannya, cuti hamil atau cuti memelihara anak kecil tidak akan menjadi suatu kelemahan yang menyebabkan seorang manager HRD akan lebih suka memilih calon karyawan laki-laki daripada perempuan. Wacana bisa menjadi sumber kekerasan simbolis. Orang tidak menyadari, karena dominasi wacana oleh laki-laki, perempuan tersingkir melalui proses yang legitim. Seakan-akan karena kelemahan dan kesalahan perempuan marjinalisasi itu terjadi. Proses manipulatifnya terletak pada tradisi dan kebiasaaan yang melegitimasi laki-laki untuk mendefinisikan peran, kerja, jasa, norma.


Mekanisme Penindasan Melalui Wacana
Wacana membangun struktur kehidupan yang mengkondisikan dan bisa menghalangi perjuangan kaum perempuan. Wacana tidak sama dengan bahasa. Tetapi dengan bahasa, wacana bisa mewujudkan diri, artinya dengan bahasa manusia mampu mengambil jarak, mampu mengartikan dan mengambil sikap, dan bahkan memiliki dunia. Bahasa menjadi mediasi antara kesadaran dan realitas, sehingga bahasa memungkinkan manusia memiliki dunia. Dengan demikian, bahasa sudah menjadi wacana. Wacana adalah peristiwa atau kejadian suatu bahasa.
Wacana memiliki empat unsur: subyek, acuan pada dunia atau wahana, ditujukan kepada seseorang/kelompok, dan temporalitas[6]. Wacana menuntut adanya subyek yang menunjukkan siapa pembicara. Acuan pada suatu dunia atau wahana maksudnya ialah dunia yang ingin digambarkan atau direpresentasikan. Jadi situasi yang diacu oleh pembicara dan lawan bicara. Wacana ditujukan kepada seseorang atau suatu kelompok. Ini merupakan dasar komunikasi. Tetapi memang berbeda antara wacana yang ditujukan kepada lawan bicara yang hadir dalam situasi penyampaian dan pembaca wacana yang sudah tertulis. Ciri universalitas lebih mewarnai pada pembaca wacana tertulis. Sedangkan temporalitas menjadi ciri sebuah wacana karena wacana selalu dinyatakan dalam waktu tertentu dan mempunyai kesejarahannya.
Penindasan melalui wacana itu nampak jelas dari pengalaman lingkup publik bahwa subyek pembicara didominasi oleh laki-laki. Kalau laki-laki mendominasi wacana, maka acuan pada dunia yang ingin digambarkan atau direpresentasikan tentu sesuai dengan keinginan, kepentingan dan nilai-nilai laki-laki. Dalam konteks ini orang berbicara mengenai ideologi phallocentrisme, laki-laki menjadi pusat dan kriteria segala sesuatu. Karl Mannheim dalam Ideology and Utopia (1936) memberikan definisi ideologi dalam arti sempit, yaitu pandangan dan sistem pemikiran yang selalu ditafsirkan dari sisi kehidupan yang mengungkapkannya[7].
Dari definisi itu menjadi jelas apa yang terjadi kalau laki-laki mendominasi model pemahaman akan keyakinan-keyakinan moral dan kognitif tentang manusia, masyarakat dan dunia serta hubungan antara ketiga hal itu. Ideologisasi merupakan proses yang melekat pada semua bentuk pemikiran yang melibatkan diri si pembicara untuk memihak. Maka kecenderungan phallocentrisme seperti halnya ideologi lainnya yaitu tidak transparan sehingga menyebabkan kelambanan. Maksudnya sesuatu yang baru tidak bisa diterima atau diintegrasikan oleh ideologi bila tidak sesuai dengan tipe-tipe yang sudah ditentukan olehnya, yang diyakini sebagai endapan pengalaman sosial. Tuntutan kesetaraan gender akan dianggap sebagai penyimpangan karena tidak sesuai dengan peran perempuan seperti sudah digariskan adat, kebiasaan, tradisi atau agama.
Dalam konteks itu, phallocentrisme memiliki ciri yang sama dengan ideologi yaitu disimulasi: menyembunyikan kenyataan-kenyataan yang benar-benar dihayati oleh kelompok perempuan, yaitu ketidakadilan dan aspirasi akan kesetaraan gender. Aspirasi dan kenyataan baru itu tidak bisa diintegrasikan oleh skema penuntun ideologi lelaki. Jawaban dari mereka yang tidak setuju terhadap tuntutan pentahbisan pastor perempuan merupakan contoh menarik dari fungsi disimulasi ideologi: tuntutan itu hanya akan membawa perpecahan di dalam Gereja Katholik; umat belum siap menerima perubahan seperti itu; harus dibedakan antara wacana pada tataran sosiologis dan tataran teologis; tuntutan itu menyimpang dari tradisi yang sudah berabad-abad. Setiap kelompok memiliki ciri-ciri orthodoksi dan tidak toleran bila tersingkir. Tuntutan kesetaraan gender dari perempuan mengancam peran dan dominasi laki-laki dengan segala nikmat sosialnya. Bukan hanya itu, kebaharuan bisa dianggap sebagai ancaman karena bisa mengakibatkan laki-laki tidak bisa mengenali dirinya kembali, yang sebelumnya dianggap ciri khas. Ciri disimulasi dari phallocentrisme itu lebih terasa dalam hubungannya dengan peran dominasi yang terkait dengan hirarki suatu organisasi sosial. Biasanya apa yang ditafsirkan dan mendapat pembenaran dari ideologi adalah hubungan kekuasaan. Maka tidak mengherankan masalah pastor perempuan, pemuka agama perempuan dan pemimpin politik perempuan, menjadi isu yang hangat dan mengundang reaksi keras terutama dari laki-laki.

Mendobrak Wacana Laki-laki dengan Penafsiran Kembali
Untuk keluar dari penindasan dan ketidakadilan yang diakibatkan oleh wacana laki-laki, cara yang mungkin ialah melakukan penafsiran kembali wacana tersebut. Ini berarti menafsir ulang pemikiran-pemikiran filsafat, teologi, produk-produk hukum, norma-norma moral dan agama, dsb. Model penafsiran yang bagaimana? Penafsiran itu pertama-tama harus memperhitungkan unsur temporalitas dari wacana atau sifat kesejarahan dari pemahaman; kedua, melakukan kritik ideologi; ketiga mengadakan dekonstruksi atau pembongkaran wacana laki-laki.
Pendobrakan dilakukan dengan sikap kritis terhadap kesejarahan pemahaman. Pemahaman itu bersifat kebahasaan dalam arti orang baru bisa dikatakan memahami ketika dia mampu merumuskan di dalam bahasa. Semua pemahaman bersifat prasangka artinya bila seseorang memahami suatu situasi tidak pernah dengan kesadaran kosong tetapi sudah membawa kategori-kategori yang sifatnya pra-pemahaman. Tidak ada pemahaman yang murni terhadap sejarah tanpa kaitan dengan masa kini, artinya masa lalu juga beroperasi di masa kini. Masa kini bisa dipahami hanya melalui cara melihat, maksud dan pra-pemahaman yang diwarisi dari masa lampau. Melalui bahasa dan bertitik-tolak dari prasangka tertentu itu pikiran dapat diaktualisasikan dalam kondisi sejarah atau konteks tertentu. Maka terhadap wacana yang dianggap menindas perempuan, orang bisa bertanya tentang dimensi kesejarahannya. Tugas hermeneutika dalam perjuangan perempuan adalah menjelaskan momen-momen sejarah manakah dari pemikiran filsafat, teologi, produk-produk hukum, norma-norma moral atau agama yang membawa pada bias gender. Kategori lingkup privat dan lingkup publik dengan konsekuensi ketidakadilan terhadap perempuan bisa ditafsirkan kembali agar tugas rumah-tangga tidak lagi diidentikkan dengan perempuan.
Kritik ideologi dimaksudkan sebagai kritik atas prasangka-prasangka dan ilusi-ilusi yang menjadi bagian dari wacana laki-laki. Wacana laki-laki yang berupa pemikiran filsafat, teologi, produk-produk hukum, norma-norma moral atau agama, dsb., memuat prasangka-prasangka yang sarat nilai-nilai kelakian dan mempertahankan status quo dominasi laki-laki. Ilusi bahwa superioritas nyata laki-laki cukup untuk memberikan pembenaran atas segala tindakannya - membuat hukum dan memberlakukannya - harus diuji melalui kritik ideologi. Sedangkan dengan dekonstruksi, perempuan diajak untuk membongkar motivasi-motivasi yang disadari dan yang terselubung, serta kepentingan-kepentingan laki-laki yang melekat pada wacana politik, filosofis, teologis, dsb. Dengan ketiga jalan itu, kekerasan simbolis melalui wacana dibongkar. Wacana baru dan cara melihat baru yang peduli akan nasib perempuan harus dibangun. Dengan demikian perempuan bisa menilai apa pun dengan cara pandang mereka sendiri seperti yang diidamkan oleh Annie Leclerc.



[1] Annie Leclerc adalah feminis Perancis, penulis buku Parole de Femme, terjemahan Indonesia berjudul “Kalau Perempuan Angkat Bicara” , Kanisius, Yogyakarta, 2000.
[2] Pierre Bourdieu, La domination masculine, Seuil, Paris, 1998, hal. 7.
[3] Bdk. Will Kymlicka, Les théories de la justice, La Découverte, Paris, 1999, hal. 261.

Sunday, May 01, 2005

INFOTAINMENT LARIS MANIS

Oleh: Aprilina
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, NIM : 2002053045



Maraknya tayangan infotainment di layar televisi, tentunya tidak lepas dari peran kita sebagai penikmat acara televisi yang satu itu. Hal ini terbukti dengan tingginya jumlah rating untuk acara infotainment di beberapa stasiun televisi. Karena jumlah rating yang tinggi dan tentunta banyak yang menggemari acara tersebut, maka semua stasiun televisi berlomba-lomba dalam menyajikan tayangan infotainment tersebut dengan berbagi nama seperti : Kiss, Cek dan Ricek, Insert, Go Show, kroscek, Peri gosip, Bibir Plus, Kabar-kabari, Hot Shot dan lain-lain.
Tayangan Infotainment tersebut tanpa kita sadari telah memasukkan muatan ideologis. Ideologi yang berusaha disosialisasikan lewat tayangan infotainment ini adalah “Ideologi Patriarki”. Sebelum membahas lebih jauh lagi, kita perlu tau apakah yang disebut ideologi patriarki itu ? Berikit ini adalah beberapa pendapat dari para ahli tentang patriarki. Menurut Heidi Hartmann (1992), patriarki adalah “ Relasi hierarkis antara laki-laki dan perempuan dimana laki-laki lebih dominan dan perempuan menempati posisi sub ordinat yang memungkinkan laki-laki untuk mengontrol perempuan”. Menurut Juliet Mitchell (1994) bahwa konsep budaya menempatkan laki-laki dan perempuan bertindak sehari-hari menurut garis tradisi sedemikian rupa sehingga perempuan dalam posisi hanya sebagai “pelengkap” kaum laki-laki. Dari kedua pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa Ideologi Patriarki adalah suatu ideologi yang memposisikan laki-laki lebih tingi daripada perempuan (menomorsatukan laki-laki). Perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya diasosiasikan dari perbedaan fisik saja, melainkan juga dihubungkan dengan persoalan yang lainnya, misalnya : laki-laki selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang bermakna Good, Right, dsb. Sementara perempuan diasosiasikan dengan sesuatu yang bermakna Bad, Left, dsb. Pengklasifikasian elemen-elemen yang berlawanan dalam ideologi patriarki tidak terlepas dari konsep oposisi biner oleh Jean Claude Levisstrouss.
Konsep ideologi patriarki dikonstruksikan, dilembagakan, atau disosialisasikan lewat institusi-institusi yang terlibat dalam kehidupan sehari-hari seperti : Keluarga, Sekolah, Masyarakat, Agama, dan Media Massa. Keluarga merupakan tempat sosialisasi awal dari konstruksi patriarki. Anak laki-laki belajar menjadi “Maskulin” dan anak perempuan belajar menjadi “feminin” dari hadiah-hadiah yang diberikan oleh orang tuanya dan temanpteman dekatnya pada saat mereka ulang tahun. Mainan mobil-mobilan dan robot-robotan untuk anak laki-laki dan Boneka serta Bunga untuk anak perempuan. Anaka laki-laki diajari untuk membetulkan genteng yang bocor atau perangkat listrik yang rusak, sedangkan anak perempuan diajari untuk memasak dan menyulam.
Di institusi sekolah, buku-buku pelajaran SD (terutama buku Bahasa Indonesia) tanpa disadari juga bersifat patriarkis, misalnya sering mengambil contoh-contoh kalimat seperti : Budi bermain layang-layang, wati bermain boneka di kamar. Bapak bekerja di kantor, sedangkan Ibu memasak di dapur dan sebagainya.
Kalimat-kalimat tersebut tanpa kita sadari telah mengkotak-kotakkan fungsi laki-laki dan perempuan sesuai nilai-nilai kepantasan tertentu yang berlaku di masyarakat tentang pekerjaan apa yang lazim dikerjakan oleh laki-laki dan pekerjaan apa yang lazim dikerjakan oleh perempuan.
Di Media massa (khususnya televisi) ideologi patriarki telah disosialisasikan juga lewat tayangan infotainment. Hal ini terlihat dari pembawa acara tayangan infotainment yang kebanyakan adalah perempuan dan jarang sekali dipandu oleh laki-laki. Kalaupun ada pembawa acara infotainment laki-laki pasti dia akan ditampakkan sebagai sosok yang kecewek-cewekan atau banci (misal : pembawa acara Kiss yaitu Dave Hendrik). Kita semua tahu bahwa tayangan infotainment adalah tayangan yang mengungkap dan mengurusi wilayah privat dari para selebritis. Disini perempuan ditampilkan sebagai orang yang pantas untuk mengurusi wilayah privatnya orang lain (bergosip)
Selain direpresentasikan oleh pembawa acara perempuan, ideologi patriarki dalam infotainment terlihat juga dari substansi tayangan tersebut yang mana berisi tentang kekerasan yang dilakukan oleh pasangan selebritis (misalnya : kasus pemukulan yang dilakukan oleh suami Novia Ardana dan suami Irianti erning praja). Kasus hamilnya Pinkan Mambo yang hamil tanpa suami dan kasus Ariel prsonil group band Peter pan yang menghamili Sarah Amelia. Dari pemebritaan tersebut yang ingin ditunjukkan oleh ideologi patriarki adalah bahwa perempuan itu memanglah makhluk yang paling lemah.
Ideologi patriarki juga berusaha menciptakan mitos tentang citra cantik melalui sosok selebritis yang selalu ditampilkan dengan tubuh yang langsing, kulit yang putih, wajah yang putih dan tidak berjerawat, bola mata yang indah berkat lensa kontak warna-warni, rambut yang direbonding atau rambut yang dicat dan sebagainya. Secara tidak langsung baik kita sadari ataupun tidak, konsep cantik yang direpresentasikan oleh para selebritis dalam tayangan tersebut semata-mata bertujuan untuk menyenangkan kaum laki-laki. Dimana dalam ideologi patriarki, kaum laki-laki adalah orang nomor satu dan perlu mendapatkan sesuatu yang serba bagus dan sempurna.
Dengan sosialisasi yang dilakukan melalui institusi-institusi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari diharapkan konsep patriarki nejadi tidak begitu jelas terlihat sehingga bisa dengan kuat ditegakkan sebagai ideologi yang kelihatannya alamiah.

Tuesday, April 19, 2005

ARTIKULASI DAN REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM IKLAN

Oleh : YUSMAWATI (Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikas UMY NIM 20020530012)


Dewasa ini perkembangan iklan di Indonesia cukup pesat. Berbagai macam iklan ditampilkan dengan kemasan yang sekreatif mungkin yang senantiasa dapat menarik dan merebut perhatian masyarakat. Iklan merupakan cara yang efektif bagi media untuk dapat mempengaruhi kahlayak. Iklan yang banyak mempengaruhi masyarakat terutama perempuan adalah iklan produk – produk kecantikan, mulai dari kosmetik hingga produk yang menurut media dapat membuat tubuh langsing dan seksi.
Perempuan merupakan makhluk Tuhan yang diciptakan dengan beragam keindahan yang dianugerahkan pada dirinya. Sebagian dari perempuan sadar akan hal ini. Secara kodrati, setiap perempuan selalu ingin tampil cantik, seksi dan menjadi pusat perhatian. Keinginan ini dibaca oleh media dan dalam hal ini media memanfaatkannya untuk membangun sebuah persepsi tentang pengertian cantik dan seksi bagi seorang perempuan.
Media menggambarkan perempuan ‘seutuhnya’ dalam iklan, yakni perempuan yang cantik dan seksi. Selama ini, iklan telah berhasil menciptakan pengertian cantik dan seksi menurut konteksnya dan mengaburkan pengertian cantik dan seksi yang ada dalam dunia ‘nyata’. Dengan ideologinya masing – masing iklan berlomba-lomba mempengaruhi masyarakat. Beragam pengertian cantik dan seksi bagi seorang perempuan yang telah diciptakan oleh iklan. Ada beberapa iklan yang menamankan ideoligi cantik dan seksi itu adalah kulit putih dan mulus. Tapi saat ini, cantik dan seksi tidak semata – mata berartikulasi dengan kulit putih. Sementara itu ada iklan yang mempresentasikan perempuan cantik dan seksi itu harus memiliki tubuh ramping dan memiliki rambut yang hitam lurus. Iklan telah mampu merecoki pikiran masyarakat tertutama perempuan. Banyak dari perempuan Indonesia yang telah terpengaruhi dan ingin menjadi seperti apa yang disajikan oleh media melalui iklan.
Iklan dianggap sangat tepat untuk mengubah konstruksi cantik dan seksi bagi perempuan. Iklan lebih banyak membidik sasarannya pada kaum perempuan karena perempuan dianggap sebagai makhluk yang senang dengan hal – hal yang berhubungan dengan masalah kecantikan.
Iklan berusaha mengaburkan konteks cantik bagi perempuan di Indonesia. Pengertian cantik dan seksi yang disuguhkan dalam iklan merupakan pengaruh dari negara-negra barat. Cantik dan seksi yang ada dalam benak mayarakat sekarang adalah budaya cantik yang diciptakan oleh pihak – pihak yang memiliki ideology dari kelas yang berkuasa dalam masyarakat.
Pihak – pihak yang berkuasa ini berusaha untuk memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari suatu budaya yang dijadikan trend dalam suatu masyarakat. Jika diperhatikan lebih jauh, banyak iklan produk –produk kecantikan yang merubah positioning-nya. Misalnya Dove yang dulu ‘berkonsentrasi’ dengan sabun kecantikannya , sekarang telah beralih pada shampoo untuk membuat rambut lebih halus dan rapi. Iklan Pond’s yang dulu hanya merupakan produk pemutih sekarang telah menguasai pasar lebih luas lagi dengan produk anti jerawatnya. Hal ini dilakukan karena banyaknya persaingan dan melihat besarnya peluang. Karena untuk saat ini dalam pikiran perempuan hal yang menjadi prioritas utamanya adalah ingin tampil cantik dan seksi dengan menggunakan berbagi macam produk-produk kecantikan yang disebabkan oleh beragamnya pengertian cantik dan seksi yang telah berhasil dibangun oleh media melalui iklan. Pengalaman kita yang terbagi oleh banyaknya sumber dari iklan ini, membuat kita percaya akan arti cantik dan seksi yang diberikan oleh iklan dan hal ini terlihat nyata. Kita lupa akan budaya cantik dan seksi yang ada di Indonesia.
Perempuan direpresentasikan dengan seseorang yang mengagung-agungkan kecantikannya. Iklan hanya menonjolkan sisi-sisi fisik dari perempuan dengan memberikan pengertian sempit dari kata cantik yang hanya dilihat dari luarnya saja. Representasi ini tidak sepenuhnya benar dalam dunia ‘nyata’. Ada sebagian dari realitas – realitas yang ada dalam masyarakat terutama ‘dunia perempuan’ yang dihilangkan dalam iklan. Membahas tentang arti cantik dalam iklan yakni putih, jika dibandingkan dengan realitas yang ada, representasi yang ada dalam iklan menolak kenyataan bahwa seorang perempuan Indonesia yang pada dasarnya memiliki kulit sawo matang. Sebelumnya , iklan telah membingkai arti cantik dan seksi dalam benak masyarakat dengan ideology dan kepentingannya.
Kehidupan perempuan saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh realitas yang ditampilkan media. Iklan telah memproduksi realitas sosial tentang cantik dan seksi dengan menciptakan ideologinya masing – masing. Pemahaman yang terbagai ini akan tampak nyata dan semakin dapat mempengaruhi, karena diikuti dengan adanya representasi dalam iklan dan dengan timbulnya realitas yang tercipta oleh media secara bersamaan dan selain itu banyaknya perempuan saat ini yang mengkonsumsi realitas yang dibangun dalam iklan sehingga hal ini tampak nyata.

SPONGE BOB, ADA APA DENGANMU ?

Oleh Ambar Setiawan (Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, NIM : 20020530009)




Film, kata ini terdengar familiar di telinga kita. Siapa yang tidak tau istilah film dari anak anak sampai dewasa,tua, muda miskin kaya pasti semua tau apa itu film ? Yups, film adalah gambar hidup yang sebenarnya adalah pengembangan dari dunia fotografi. Adalah Thomas Alva Edison dan Lumiere bersaudara sebagai perintis pembuatan film untuk yang pertama kalinya. Pada tahun 1887 Thomas Alva Edison berhasil menciptakan mekanisme film dengan merancang alat untuk merekam dan memproduksi gambar penemuan Edison ini masih bermasalah karena belum diketemukanya bahan dasar untuk membuat gambar, hingga datang bantuan dari George Eastman yang menawar kan gulunagan pita seluloit. Ciptaan Edison ini disebut dengan istilah Kinetoskop
Pada tanggal 28 Desember 1905 di sebuah kafe bawah tanah di Perancis Lumiere bersaudara memproyeksikan hasil karya mereka yang sebelumnya telah membayar tiket masuk untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Disinilah untuk yang pertama kalinya berdiri sebuah Bioskop pertama di Dunia, dan Bibit bibit industri kapitalis mulai ada. Tahun 1905 Bioskop dengan sebutan Nicklodeon mulai menyebar di Amerika dengan film film awal yang di pertunjukanya berrupa film cerita yang berdurasi pendek sekitar sepuluh menit. Perkembangan film pun selalau seiring dengan perkembanagn tehnologi manusia dari Film bisu hitam putih pada awal tahun 1920 an , film hitam putih yang sudah ada suaranya pada akhir tahun 1920 an dan film warna pada akhir tahun 1930 an setelah itu di ikuti dengan industri film Holiwood pada awal tahun 1940 an .
Pada perkembanagn selanjutnya film tidak hanya dijadikan sebagai sarana hiburan saja, film bisa di jadikansebagai sarana promosi, alat propaganda dan sebagai alat hegemoni politk, gender, idiologi, ras, bahkan agama sebagai contoh film sebagai sarana promosi saya rasa sudah jelas dengan membikin film kita bisa mempromosikan produk baik yang berupa barang ataupun jasa. Contoh film sebagai alat propaganda : pada awal terjadinya Perang dunia Pertama dan Perang dunia kedua. Kita lihat saja Uni Soviet, Jerman dan Amerika mereka merekam devile pasukannya berkali kali sehingga terlihat berkali kali lipat jumlahnya dan gambar tersebut di pamerkan kemusuh musuh mereka, sehingga nyali dari musuh mereka menjadi ciut..
Film sebagai alat Hegemoni. Apa hegemoni itu ? Hegemoni, Kata ini mungkin masih terdengar asing bagi telinga kita. Apa itu hegemoni ? Louis altouser berpendapat bahwa dalam mengkaji idiologi ada dua yaitu RSA (Repressive State Apparatus ) dan ISA ( Idiological Stae Apparatu ). Apa itu RSA dan apa itu ISA ?. RSA menurut terminologi Marxian, aparat negara yang represif ( State Aparatus ) terdiri dari pemerintah, polisi, tentara dan sebagainya. Sedangkan ISA tidak di jalan kan melalui kekerasan teapi melalaui cara yuang halus yaitu dengan indoktrinasi atu penjejalan penjajalan pikiran manusia dengan idiologi
Mungkin orang awam tidak begitu peduli dengan apa muatan politis di balik sebuah film. Kita sebagai Mahasisawa tentulah harus kritis dan harus menjadi Aktiv udience dalam merngkritisi sebuah film Tentunya temen temen sudah pernah melihat film Sponge Bob Square Pant’s bukan ? Yups film ini di tayangkan oleh salah satu stasiun televisi terkemuka di Indonesia, bahkan ditayangkan empat kali dalam satu hari dengan semboyannya it’s Sponge Bob times mungkin kita bertanya tanya muatan politis apa yang ingin di berikan Stasiun Televisi dan Produser atau sutradra Film Sponge Bob. Untuk itukita akan mengkajinya bersama sama.
Kalau melihat film ini satu dua kali mungkin belum begitu kelihatan dimana muatan politis dari film ini. Setelah saya amati dan saya selidiki ternyata dalam film mengandung idiologi kapitalisme dan dan westerenisasai kenapa saya bisa berkesimpulan seperti itudi dalam film itu banyak ajaran tentang westerenisasai dan kpitalisasai dalam Film itu jelas digambarkan bahwa yang kaya yang berkuasa , yang kaya berhak untuk mengatur yang lemah , Enaknya Burger Craby Patty padahal burger di Amerika diseebut dengan Junk Food atau makanan sampah,dan kita di anjurkan untuk memakannya oleh mereka, bagaimana cara untuk mendapatkan sesuatu dengan menghalalkan segala cara untuk itu kita bedah karakteristik dari tiap tiap tokoh melalui reptresentasi.
1. Mr Crap :
Mr.Crap direpresentrasikan sebagai pemilik restoran Cruisty Crab dengan menu adalanya Craby Patty sifatnya yang pelit mau menang sediri dan sifatnya yang licik serta mempunyai segudang akal bulus. Dalam salah satu episode bercerita bahwa tuan Crab tidak membayarkan gaji yang tidak semestinya kepada kariawanya yaitu Sponge Boib dan Saquitwert,Squit mangajak Sponge Bob untuk Mogok kerja Maka merekapun mogok kerja tetapi apa yang di dapat kan mereka ? mereka justru mendapatkan pemutusan hubungan kerja waluapun akhirnya tidak jadi karena dia menyerah. Dari peristiawa ini kita bisa belajar bahwa Faham Kapitalias masih sangat melekat kuat dan Mendarah daging kepada para sutradara di amerika, bahwa yang berduitlah yang berkuasa kita peras kariawan habis habisan dan tidak kita merikan hak yang semestinya kariawan tak ubahnya bagaikan sebuah mesin pencetak uang jadi benar dan sangat realistis sekali pendapat Marx dan George Luckass bahwa kariawan dalam ini diartikan buruh telah diexploitasi habis habisan oleh tuannya dalam hal ini adalah pemegang modal.
2. Sponge Bob :
Sponge Bob direpresentasikan sebagai sebuah karakter yang lugu,baik hati bodoh,konyol norak pokoknya gokil abis deh. Inilah pesan yang ingin disampaikan sang sutradara bahwa orang kecil seperti si Sponge Bob memang begitulah karakternya mudah selali di manfaatkan, Sponge Bob adalah penemu Burger Craby Patty yang rasanya terkenal sangat enak sampai sampai membuat iri Mr Plangton. Tetapi perlakuan apa yang di dapat oleh Sponge Bob tidak pernah mendapatkan apa yang semestinya menjadi haknya bahkan Mr Crab malah mencaplok hasil kreatifitas dari Sponge Bob atau dalam bahasa kerenya Inkorporasi menurut kajian Farank furt Scholl karena hasil karya Sponge Bob yang enak itu maka Mr Crap Membisniskannya dan dijadikanlah Icon di restotannya.
3. Squitwerd :
Seekor gurita yang licik, bodoh, sok pintar tatapi dia tidak sadar tentang kebodohannnya dia selalu menjelek jelekan orang lain dan melebih lebihkan dirinya sendiri padahal sebenaranya dia tidak lebih baik dari dari orang lain apakah ini yang di maksut dengan Kesadaran semu ( false consciousness) menurut kajian Birmingham School. Seperti contoh dalam salah satu episode ketika Sponge Bob dan Squit sedang membuat patung bersama sama. Hasil karya Sponge Bob jauh lebih baik tetapi Squit tetap tidak mau mengakiunya. Sponge Bob di ajari cara bagaimana mana membuat patung menurut cara Squit dan Sponge Bob berhasil mengikuti caranya. Pada suatu hari datanglah seorang kolektor benda seni kerumah Squit dan melihat hasil karya Sponge Bob dan dia tertarik untuk membeli dengan harga mahal dan Squit mengaku kalau itu hasil karyanya, entah kenapa patung tersebut rusak ketika sang pembeli ingin membeli patung tersebut dan sialnya Squit tidak bisa memperbaiki nya, tentu dong dia minta tolong kepada Sponge Bob untuk memperbaikinya. Tetapi Sponge Bob sudah terlanjur megikutu cara Squit untuk membuat patung dan Sponge Bob tidak bisa membuatnya untuk yang kedua kali dari sini saja kita bisa belajar dari dua teori yaitu Inkorporasi dan kesadaran Semu.
4. Patrick :
Karakter Bintang laut yang berwarna pink ini tidak kalah lucu dan menggemaskan sifatnya yang konyol dan gokil abis terkadang membuat penonton menjadi gemas mungkin orang lain akan menyebut ‘’maaf ‘’ tolol ia adalah sahabat dekat Sponge Bob jika Sponge Bob ingin melakukan sesuatu tidak jarang ia akan meminta pertimbanagn Patrick ini adalah salah satu kisah menariknya : pada suatu hari ketika diadakan lomba kariawan terfaforit yang salah satunya di ikuti oleh Sponge Bob dia sudah lengkap stribut kepegawaiannya hanya kurang satu yaitu kartu identitas yang biasnya di tempel di baju para karyawan Sponge bob berkata kepada Patrick : Patrick apakah engkau melihat kartu nama ku ? Patrick menjawab aku melihatnya jawab Patrick mana ? kata Sponge Bob sambil menoleh kearah patrick aku sudah lupa jawab Patrick lalu Sponge Bob mulai mencari lagi tunggu tunggu aku melihatnya kata Patrick , mana ? kata Sponge Bob aku lupa lagi jawab Patrick lalu Sponge Bob mulai mencari lagi tunggu tunggu aku melihat nya kata Patrick mana / kata Sponge Bob, itu di bajumu ternyata kartu sudah terpasang tetapi Sponge Bob Lupa kalau dia memakainya terbalik. Dari percakapan itu bisa disimpulkan bahwa bawahan atau orang kecil tolol semua kayak Patrick dan Sponge Bob dan orang berduit direpresentasikan sebagai orang yang cerdas sperti Mr Crab.
5. Mr Plangton :
Tokoh ini di lambangkan dengan mahluk kecil hijau licik yang panjang akal nya dia adalah saingan bisnis dari Mr Crab. Untuk mendapat kan resep Craby Patty yang terkenal sangat lezat ia tidak akan sungkan sungkan untuk menghalalkan segala cara termasuk mencuri resep baik secara langsung maupun dengan cara memperalat Sponge Bob untuk memberi tau resep dari Burger Craby Patty. Dari sidi bisda kita ambil pelajaran bahwa ajaran kapitalisme sangat kental nilainya yaitu dengan menghalalkan segala cara klalau kita ingin mendapatkan sesuatu.
Baiklah temen temen dari uraian saya diatas bisa kita tarik satu pelajaran besar bahwa kta sebagai mahasiswa komunikasi haruslah aktif mengkritisi suatu Film jangan kita cuma menonton dan memuji kalau Film itu bagus dan menarik untuk dilihat. Kalu kita tau sebenarnya si produser dari Film Sponge Bob( Sthepan Hillary ) adalah seorang pengusaha Restoran cepat saji di Amerika yang kebetulan suka akan kehidupan bawah laut. Dengan suksesnya Film Sponge Bob di pasaran di ikuti dengan larisnya penjualan makanan dan Mercedaise Sponge Bob bahkan Untuk versi layar lebarnya langsung menembus Box Office. Baiklah semoga dengan makalah saya ini bisa kita ambil manfaatnya mungkin kalau ada tutur kata yang kuarang berkenan saya mohon maaf yang sebesar besarnya.

Friday, April 08, 2005

Paper Sosiologi Komunikasi Kelas A

Paper di atas adalah paper terbaik di kelas "A" mata kuliah Sosiologi Komunikasi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2004/2005