Sunday, May 01, 2005

INFOTAINMENT LARIS MANIS

Oleh: Aprilina
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY, NIM : 2002053045



Maraknya tayangan infotainment di layar televisi, tentunya tidak lepas dari peran kita sebagai penikmat acara televisi yang satu itu. Hal ini terbukti dengan tingginya jumlah rating untuk acara infotainment di beberapa stasiun televisi. Karena jumlah rating yang tinggi dan tentunta banyak yang menggemari acara tersebut, maka semua stasiun televisi berlomba-lomba dalam menyajikan tayangan infotainment tersebut dengan berbagi nama seperti : Kiss, Cek dan Ricek, Insert, Go Show, kroscek, Peri gosip, Bibir Plus, Kabar-kabari, Hot Shot dan lain-lain.
Tayangan Infotainment tersebut tanpa kita sadari telah memasukkan muatan ideologis. Ideologi yang berusaha disosialisasikan lewat tayangan infotainment ini adalah “Ideologi Patriarki”. Sebelum membahas lebih jauh lagi, kita perlu tau apakah yang disebut ideologi patriarki itu ? Berikit ini adalah beberapa pendapat dari para ahli tentang patriarki. Menurut Heidi Hartmann (1992), patriarki adalah “ Relasi hierarkis antara laki-laki dan perempuan dimana laki-laki lebih dominan dan perempuan menempati posisi sub ordinat yang memungkinkan laki-laki untuk mengontrol perempuan”. Menurut Juliet Mitchell (1994) bahwa konsep budaya menempatkan laki-laki dan perempuan bertindak sehari-hari menurut garis tradisi sedemikian rupa sehingga perempuan dalam posisi hanya sebagai “pelengkap” kaum laki-laki. Dari kedua pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa Ideologi Patriarki adalah suatu ideologi yang memposisikan laki-laki lebih tingi daripada perempuan (menomorsatukan laki-laki). Perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya diasosiasikan dari perbedaan fisik saja, melainkan juga dihubungkan dengan persoalan yang lainnya, misalnya : laki-laki selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang bermakna Good, Right, dsb. Sementara perempuan diasosiasikan dengan sesuatu yang bermakna Bad, Left, dsb. Pengklasifikasian elemen-elemen yang berlawanan dalam ideologi patriarki tidak terlepas dari konsep oposisi biner oleh Jean Claude Levisstrouss.
Konsep ideologi patriarki dikonstruksikan, dilembagakan, atau disosialisasikan lewat institusi-institusi yang terlibat dalam kehidupan sehari-hari seperti : Keluarga, Sekolah, Masyarakat, Agama, dan Media Massa. Keluarga merupakan tempat sosialisasi awal dari konstruksi patriarki. Anak laki-laki belajar menjadi “Maskulin” dan anak perempuan belajar menjadi “feminin” dari hadiah-hadiah yang diberikan oleh orang tuanya dan temanpteman dekatnya pada saat mereka ulang tahun. Mainan mobil-mobilan dan robot-robotan untuk anak laki-laki dan Boneka serta Bunga untuk anak perempuan. Anaka laki-laki diajari untuk membetulkan genteng yang bocor atau perangkat listrik yang rusak, sedangkan anak perempuan diajari untuk memasak dan menyulam.
Di institusi sekolah, buku-buku pelajaran SD (terutama buku Bahasa Indonesia) tanpa disadari juga bersifat patriarkis, misalnya sering mengambil contoh-contoh kalimat seperti : Budi bermain layang-layang, wati bermain boneka di kamar. Bapak bekerja di kantor, sedangkan Ibu memasak di dapur dan sebagainya.
Kalimat-kalimat tersebut tanpa kita sadari telah mengkotak-kotakkan fungsi laki-laki dan perempuan sesuai nilai-nilai kepantasan tertentu yang berlaku di masyarakat tentang pekerjaan apa yang lazim dikerjakan oleh laki-laki dan pekerjaan apa yang lazim dikerjakan oleh perempuan.
Di Media massa (khususnya televisi) ideologi patriarki telah disosialisasikan juga lewat tayangan infotainment. Hal ini terlihat dari pembawa acara tayangan infotainment yang kebanyakan adalah perempuan dan jarang sekali dipandu oleh laki-laki. Kalaupun ada pembawa acara infotainment laki-laki pasti dia akan ditampakkan sebagai sosok yang kecewek-cewekan atau banci (misal : pembawa acara Kiss yaitu Dave Hendrik). Kita semua tahu bahwa tayangan infotainment adalah tayangan yang mengungkap dan mengurusi wilayah privat dari para selebritis. Disini perempuan ditampilkan sebagai orang yang pantas untuk mengurusi wilayah privatnya orang lain (bergosip)
Selain direpresentasikan oleh pembawa acara perempuan, ideologi patriarki dalam infotainment terlihat juga dari substansi tayangan tersebut yang mana berisi tentang kekerasan yang dilakukan oleh pasangan selebritis (misalnya : kasus pemukulan yang dilakukan oleh suami Novia Ardana dan suami Irianti erning praja). Kasus hamilnya Pinkan Mambo yang hamil tanpa suami dan kasus Ariel prsonil group band Peter pan yang menghamili Sarah Amelia. Dari pemebritaan tersebut yang ingin ditunjukkan oleh ideologi patriarki adalah bahwa perempuan itu memanglah makhluk yang paling lemah.
Ideologi patriarki juga berusaha menciptakan mitos tentang citra cantik melalui sosok selebritis yang selalu ditampilkan dengan tubuh yang langsing, kulit yang putih, wajah yang putih dan tidak berjerawat, bola mata yang indah berkat lensa kontak warna-warni, rambut yang direbonding atau rambut yang dicat dan sebagainya. Secara tidak langsung baik kita sadari ataupun tidak, konsep cantik yang direpresentasikan oleh para selebritis dalam tayangan tersebut semata-mata bertujuan untuk menyenangkan kaum laki-laki. Dimana dalam ideologi patriarki, kaum laki-laki adalah orang nomor satu dan perlu mendapatkan sesuatu yang serba bagus dan sempurna.
Dengan sosialisasi yang dilakukan melalui institusi-institusi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari diharapkan konsep patriarki nejadi tidak begitu jelas terlihat sehingga bisa dengan kuat ditegakkan sebagai ideologi yang kelihatannya alamiah.

1 Comments:

Blogger Fajar Junaedi said...

it's very intereting topic..ngepop gitu lo yang dibahas

2:21 AM  

Post a Comment

<< Home